Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Saturday, November 25, 2017

Tunjukkan Aksi Main Angklung Di Jepang, Siswa Karawang Di Suruh Bayar 12jt/Orang

Anak-anak angklung SMPN 1 Karawang Barat diajak Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana pergi ke Jepang, untuk mengenalkan kesenian angklung di negeri matahari terbit. Keberangkatan tim angklung yang dikenal dengan sebutan Klass1k itu atas inisiatif Pemerintah Kabupaten Karawang, Setelah Gubernur Osaka Toru Hashimoto mengundang pemkab untuk mempresentasikan sistem pendidikan yang berjalan di Kota Pangkal Perjuangan. Ironisnya, biaya akomodasi rombongan angklung SMPN 1 Karawang Barat ke Jepang ternyata tidak ditanggung pemerintah Osaka maupun Pemkab Karawang. 



Karena dalam undangan tersebut tidak disebutkan Pemkab Karawang harus membawa tim angklung. Akibatnya, biaya akomodasi dibebankan kepada orang tua siswa yang disebut-sebut sebesar Rp 12 jutaan per siswa. Hal itupun diakui oleh Ketua PGRI Kabupaten Karawang Nandang Mulaya. Dia mengatakan, rombongan SMPN I Karawang turut berangkat ke Jepang atas dasar inisiatif dari Pemkab Karawang, yang ingin sekalian memperkenalkan kesenian angklung.

"Jadi benar atas biaya sendiri, karena Gubernur Osaka hanya mengundang pemkab saja. Siswa diundang atas inisiatif pemkab, karena Jepang menjanjikan kepada kami akan membantu akomodasi mereka selama disana, dan tentunya pihak sekolah menawarkan terlebih dulu kepada orang tua siswa apakah akan ikut atau tidak, jika keberatan ya tidak apa-apa," paparnya kepada Radar Karawang, Rabu (22/11) kemarin.
Nandang pun mewajarkan jika keberangkatan para siswa tersebut atas dasar biaya sendiri, karena dalam rangka pertukaran budaya dan siswa pun senang dapat jalan-jalan ke sana.

Ketika disinggung berapa besaran biaya yang dikeluarkan oleh para siswa yang berjumlah 30 orang ditambah 6 orang tua murid, Nandang enggan menjawab. "Silahkan tanya kepada pihak sekolah langsung," ungkapnya.

Ia menjelaskan, keberangkatan bupati Karawang beserta rombongan termasuk didalamnya adalah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) merupakan kegiatan yang sudah diprogramkan oleh dua dinas sejak lama. Hanya saja realisasi dari program tersebut diamanahkan penuh kepada Disbudpar dibantu oleh Disdikpora.

"Anggarannya dibagi dua antara kedua dinas tersebut. Dan setahu saya dari Disdikpora mengeluarkan hanya Rp 200 juta saja, biaya lainnya sepenuhnya ditanggung Disbudpar," katanya.

Nandang menyampaikan, undangan Gubernur Osaka Jepang terhadap Pemerintah Kabupaten Karawang memang sudah cukup lama, sejak zaman Bupati Ade Swara. Bahkan, Jepang sudah enam kali hadir ke Indonesia, terutama ke Kabupaten Karawang.

Pasalnya, Jepang menilai sistem pendidikan yang ada di Indonesia khususnya di Kabupaten Karawang sangat berbeda dengan negara-negara yang lain. Sehingga Jepang sangat ingin sekali Pemerintah Kabupaten Karawang memberikan presentasi kepada pemerintah Osaka, agar kualitas pendidikan mereka bisa maju dan berkualitas seperti di Karawang.




"Jepang sendiri memang sebelumnya sudah bekerjasama dengan pemkab dan PGRI. Bahkan wali kota dan parlemennya datang ke Karawang langsung meminta bupati untuk bisa hadir, jadi inilah dasarnya," ujarnya.

Sementara ditemui di tempat terpisah, Wakil Kepala SMPN 1 Karawang Bidang Sarana dan Prasarana Daniel Yosef menyampaikan, terkait masalah pembiayaan dirinya tidak bisa membenarkan ataupun menyanggah, karena dia tidak melihat langsung siswa membayarkan uangnya kepada pihak sekolah.

"Saya memang mendengar kabar tersebut, sepertinya iya. Tapi saya tidak melihat langsung dan jumlah nominalnya pun saya tidak tahu," ujarnya.

Menurut Daniel hal yang wajar jika beban biaya keberangkatan ke Jepang dibebankan kepada siswa yang berangkat, karena ada kekurangan dana dari pemerintah sehingga sifatnya hanya menambah anggaran.

"Dulu dari Jepang pernah ke SMPN I Karawang, bahkan ketika itu dihadiri oleh Pemkab Karawang. Kehadiran mereka dalam acara kunjungan budaya. Jadi kepergian kami adalah kunjungan balasan," tandasnya.

Sementara itu, seorang siswa SMPN 1 Karawang bernisial AP menuturkan, tidak kurang 30 orang siswa yang mengikuti ekskul angklung berangkat ke Jepang didampingi oleh 6 orang tua siswa, kepala sekolah dan guru pendamping ke Jepang. "Murid bayar Rp 12 jutaan per siswa, anak ekskul angklung jumlahnya saya gak tahu berapa orang," ungkapnya sambil berlari langsung masuk kelas karena ada guru.

source : radar-karawang

Friday, September 1, 2017

Efek "Full Day School" - Antara Prestasi Dan Frustasi

Banyak dari kita para pelajar yang menanyakan , apakah yang kita dapat dari sistem full day school ? atau dampak apa yang kita peroleh dari full day school ini? Apa mungkin prestasi yang meningkat atau juga frustasi yang makin kuat. Ya, entah prestasi atau frustasi yang kita dapat dari full day school ini yang pasti efek dari sistem FDS ini bisa kita rasakan sampai saat ini.



Prestasi?
Benarkah kata “prestasi” yang kau dapat dari sistem full day school? Nampaknya tidak kawan, tidak semua murid menyukai sistem seperti ini. Bayangkan saja, selama 10 jam kau dituntut untuk tetap fokus dan aktif untuk mengikuti setiap jam pembelajaran. Ditambah jam istirahat yang sangat singkat dan tugas yang terus meningkat pasti akan membuat mu tak mampu berkata apa-apa lagi.

Ya paling cuma 0.1% persen pelajar Indonesia yang makin berprestasi dari efek full day school ini. sisanya lebih cenderung terhadap stress dan frustasi.

Namun di tulisan kali ini saya akan mengungkap sebuah sistem yang menurut saya lebih condong terhadap kata “memaksa” otak dan kemampuan seorang siswa. Seorang Anak bisa pintar dengan cara mereka sendiri, saya percaya itu. Namun dengan sistem FDS ini nampakanya cara mereka untuk pintar terhambat oleh waktu dan kegiatan.






Frustasi ?
Ya tentu saja. Konon katanya full day school itu tidak menerapkan sistem PR atau tugas rumah . Namun itu hanya mitos belaka, faktanya PR tetap saja ada, Ada PR MTK , ada PR Sejarah, ada PR KIMA, ada PR fisika dan semua PR itu memang tetap ada disetiap mata pelajaran. Ini lah yang memberikan efek frustasi terhadap jiwa dan psikologi seorang siswa.
Lantas apa yang membuat mereka tambah frustasi? Dan Efek apa saja yang mereka dapat dari Full Day School ini.

Waktu yang singkat dan Tugas yang padat

Seperti yang kita ketahui bahwa waktu yang diterapkan oleh Kemendikbud untuk Full Day School ini rata rata 9-10 jam. Masuk jam 6.30 dan pulang 15.30. sampai rumah mungkin jam 16.00. belum lagi mandi dan sholat bagi siswa yang beragama islam. Lantas pada jam berapa ideal nya siswa bisa mengerjakan tugas yang di berikan?. Sedangkan saya yakin pada periode jam 16.00 – 18.00 otak mereka belum sepenuhnya fresh kembali. Masih ada sisa sisa kepusingan dan tekanan selama pelajaran yang masih menempel di dalam otak mereka. Jam 18.00 – 20.00 dipakai untuk waktu sholat-makan-sholat-mengaji.

Sedangkan malam hari harusnya mereka tidur lebih awal. Idealnya jam 20.30 karena apabila lewat pasti akan berdampak terhadap hari esok dan seterusnya. Jadi kapan dong tugas nya di kerjain?. Hal ini lah yang membuat tingkat frustasi seorang siswa siswa terus meningkat.







Tulisan ini dibuat atas dasar opini saya. jadi mohon maaf apabila ada kekeliruan didalamnya.